Pemerintah terus menguji Compressed Natural Gas atau CNG dalam tabung 3 kg sebagai alternatif LPG 3 kg, dengan pengujian penggunaan langsung kini memasuki tahap evaluasi akhir di lingkungan Lemigas. CNG 3 kg telah digunakan secara terbatas oleh pelaku UMKM selama sekitar tiga pekan dan dipantau setiap hari sebelum evaluasi menyeluruh dilakukan setelah satu bulan. Setelah pengujian selesai, Kementerian ESDM akan membahas skema distribusi, pemasok tabung, lokasi pengisian gas hingga pihak yang akan menjual CNG 3 kg sebelum produksi massal dilakukan.
bikinews – Pemerintah semakin serius mengembangkan gas CNG 3 kg sebagai alternatif LPG 3 kg. Setelah melewati berbagai pengujian teknis, tabung Compressed Natural Gas (CNG) kini sudah memasuki pengujian penggunaan langsung secara terbatas. Pelaku UMKM di lingkungan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi atau Lemigas menjadi pengguna dalam tahapan tersebut.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan uji coba penggunaan CNG 3 kg telah berjalan sekitar tiga pekan per 30 September 2026. Pemerintah melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan data setiap hari untuk mengetahui berbagai aspek yang perlu diperbaiki. Evaluasi menyeluruh dijadwalkan setelah pengujian berjalan selama satu bulan.
Uji Coba Gas CNG 3 Kg Masuk Evaluasi Akhir

Pengembangan CNG 3 kg telah melalui beberapa tahapan sebelum akhirnya diuji langsung oleh pengguna. Pada Agustus 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pengujian teknis tabung telah memasuki tahap akhir. Ketika itu, salah satu tahapan yang masih harus dilakukan adalah pengujian untuk memastikan ketahanan tabung dalam kondisi ekstrem.
Perkembangannya kemudian berlanjut pada September 2026 dengan pengujian penggunaan langsung. Berbeda dengan tahapan sebelumnya yang berfokus pada tabung dan aspek teknis, tahap ini melihat bagaimana CNG 3 kg digunakan dalam aktivitas nyata. Pemerintah memilih pengguna terbatas dari kalangan UMKM di lingkungan Lemigas untuk memperoleh data lapangan.
CNG 3 Kg Sudah Dicoba Langsung oleh UMKM
Uji coba kepada pengguna dilakukan selama sekitar satu bulan. Hingga 30 September 2026, Laode mengatakan proses tersebut telah memasuki minggu ketiga dan data terus dievaluasi setiap hari. Pemerintah akan melakukan review menyeluruh setelah memasuki minggu keempat.
Pemilihan UMKM sebagai pengguna uji coba memberikan gambaran mengenai penggunaan CNG untuk kebutuhan memasak dalam aktivitas usaha. Tahapan ini penting karena produk yang sedang dikembangkan nantinya tidak hanya harus memenuhi standar teknis tabung. Pemerintah juga perlu mengetahui bagaimana produk tersebut bekerja ketika digunakan secara rutin.
Apa Itu Gas CNG?
CNG merupakan singkatan dari Compressed Natural Gas atau gas alam terkompresi. Secara sederhana, gas alam dimampatkan dengan tekanan tinggi sehingga volumenya menjadi lebih kecil dan dapat disimpan dalam tabung khusus. Teknologi CNG sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru di Indonesia.
Pemerintah menyebut CNG sudah digunakan di sektor hotel, restoran dan kafe, bahkan untuk sejumlah kebutuhan program Makan Bergizi Gratis. Namun, penggunaan tersebut umumnya menggunakan tabung berkapasitas lebih besar dari produk 3 kg yang sedang dikembangkan. Pemerintah kini mencoba membuat CNG lebih praktis untuk penggunaan berskala kecil.
CNG 3 Kg Disiapkan Jadi Alternatif LPG 3 Kg
Salah satu alasan pemerintah mengembangkan CNG adalah untuk menyediakan alternatif terhadap LPG. Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan LPG nasional. Pemerintah melihat pemanfaatan gas alam domestik sebagai salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Kementerian ESDM pada April 2026 menyebut konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Produksi dalam negeri ketika itu hanya sekitar 1,6–1,7 juta ton, sedangkan sisanya dipenuhi melalui impor. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang pemerintah mengkaji pemanfaatan CNG secara lebih luas.
Bahan Baku CNG Berasal dari Dalam Negeri
Keunggulan yang ditekankan pemerintah adalah ketersediaan bahan baku CNG dari sumber domestik. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan bahan baku CNG tersedia di dalam negeri. Pemerintah berharap pemanfaatannya dapat membantu mengoptimalkan gas domestik sekaligus memperkuat ketahanan energi.
CNG sendiri telah mempunyai pasar di Indonesia sebelum rencana tabung 3 kg dikembangkan. Pemerintah mencatat sejumlah industri, hotel, restoran dan SPBG telah memanfaatkan CNG. Pengembangan ukuran 3 kg pada dasarnya diarahkan untuk membuka kemungkinan penggunaan yang lebih luas.
Tekanan CNG Jauh Lebih Tinggi dari LPG
Salah satu tantangan terbesar pengembangan tabung CNG 3 kg terletak pada tekanannya. Pemerintah menyebut tekanan CNG berada di kisaran 200 hingga 250 bar, jauh lebih tinggi dibandingkan LPG yang berada sekitar 5–10 bar. Perbedaan besar tersebut membuat desain tabung dan aspek keselamatannya membutuhkan pengujian ketat.
Karena alasan itu, pemerintah tidak langsung mendistribusikan CNG 3 kg secara luas kepada masyarakat. Tabung harus melewati rangkaian pengujian teknis sebelum memasuki tahap penggunaan langsung. Keamanan penyimpanan, katup, tabung hingga distribusi menjadi bagian dari evaluasi.
Tabung CNG 3 Kg Sudah Jalani Uji Tembak
Pada Agustus 2026, Bahlil menjelaskan salah satu tahapan terakhir adalah pengujian tabung dalam kondisi ekstrem. Pengujian tersebut dirancang untuk mengetahui ketahanan sistem tabung dan katupnya. Lemigas menjadi salah satu lembaga yang terlibat dalam proses pengujian.
Dalam perkembangan berikutnya, Laode menyatakan uji tembak tersebut telah dilaksanakan sebelum CNG masuk ke tahapan penggunaan langsung oleh UMKM. Artinya, fokus evaluasi pada September hingga awal Oktober mulai bergeser dari sekadar ketahanan tabung menuju penggunaan dan operasional di lapangan. Pemerintah ingin melihat keandalan produk sebelum penggunaannya diperluas.
Tabung CNG 3 Kg Menggunakan Tipe 4
Tabung yang diuji pemerintah merupakan tabung CNG tipe 4. Tabung jenis tersebut menggunakan lapisan dasar berbahan polimer yang diperkuat dengan material komposit, termasuk serat karbon dan fiberglass. Struktur tersebut berbeda dengan tabung LPG 3 kg yang selama ini dikenal masyarakat.
Pemilihan tabung khusus berkaitan erat dengan karakter CNG yang disimpan pada tekanan tinggi. Karena itu, pemerintah melakukan berbagai pengujian untuk memastikan spesifikasi tabung sesuai dengan kebutuhan penggunaannya. Hasil pengujian menjadi salah satu dasar sebelum pemerintah memutuskan langkah menuju implementasi yang lebih luas.
Pengiriman CNG 3 Kg Harus Pakai Bak Tertutup
Evaluasi uji coba telah menghasilkan sejumlah temuan awal. Salah satunya berkaitan dengan cara pengangkutan CNG 3 kg dari satu lokasi menuju lokasi lainnya. Kementerian ESDM menyatakan pengiriman tabung CNG harus menggunakan wadah atau kendaraan yang tidak menggunakan bak terbuka.
Ketentuan tersebut berkaitan dengan aspek keamanan distribusi. Pemerintah masih akan mengevaluasi detail transportasi dan rantai pasok setelah pengujian selama satu bulan selesai. Dengan demikian, sistem distribusi CNG 3 kg kemungkinan tidak dapat begitu saja meniru seluruh pola distribusi LPG 3 kg yang sudah ada.
Skema Distribusi CNG 3 Kg Mulai Disiapkan
Setelah evaluasi penggunaan selesai, pemerintah akan masuk ke tahapan pembahasan skema distribusi dan tata niaga. Sejumlah pertanyaan harus dijawab, termasuk siapa yang akan menjual CNG, siapa yang memasok tabung dan di mana proses pengisian gas dilakukan. Pemerintah juga harus menentukan entitas yang bertanggung jawab pada masing-masing bagian rantai pasok.
Tahapan ini menjadi penting karena produk energi tidak cukup hanya mempunyai tabung yang aman. Infrastruktur pengisian, transportasi, penyimpanan dan penjualan juga harus tersedia agar CNG dapat digunakan secara luas. Pemerintah belum mengumumkan secara resmi perusahaan yang nantinya akan menjalankan ekosistem tersebut.
Produksi Massal CNG 3 Kg Belum Dimulai
Meski uji coba sudah mendekati evaluasi akhir, CNG 3 kg belum masuk tahap produksi massal. Laode mengatakan produksi massal baru dilakukan setelah skema pelaksanaan dan distribusinya ditetapkan. Pemerintah juga belum memastikan apakah implementasi akan dimulai pada 2026 atau 2027.
Keputusan mengenai waktu peluncuran program nantinya akan diumumkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Karena itu, informasi yang menyatakan CNG 3 kg sudah pasti menggantikan LPG 3 kg dalam waktu dekat perlu dicermati. Hingga awal Oktober 2026, pemerintah masih melakukan evaluasi dan menyiapkan skema implementasinya.
Apakah CNG 3 Kg Akan Menggantikan LPG 3 Kg?
Pemerintah sejauh ini lebih banyak menyebut CNG 3 kg sebagai alternatif atau substitusi LPG, bukan menyatakan LPG 3 kg akan langsung dihapus. Pengembangan CNG merupakan salah satu opsi untuk meningkatkan penggunaan sumber energi dalam negeri. Program jaringan gas rumah tangga juga tetap berjalan sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap LPG.
Dirjen Migas pada 30 September 2026 bahkan menegaskan pemerintah belum sampai pada pembahasan khusus mengenai konversi penuh dari LPG menuju CNG. Artinya, keberhasilan uji coba CNG tidak otomatis berarti masyarakat akan diwajibkan beralih dari LPG. Pemerintah masih harus menentukan model implementasinya.
Apakah Kompor LPG Harus Diganti untuk Pakai CNG?
Salah satu persoalan penting adalah kompatibilitas dengan peralatan memasak masyarakat. Kementerian ESDM sebelumnya menyatakan penggunaan CNG 3 kg tidak akan mengharuskan masyarakat mengganti kompor LPG yang telah dimiliki. Pemerintah juga menyebut tidak diperlukan pemasangan converter tambahan berdasarkan rancangan yang sedang diuji.
Meski demikian, produk masih berada dalam proses evaluasi sebelum implementasi luas. Ketentuan teknis final tetap perlu merujuk pada spesifikasi dan petunjuk resmi ketika produk benar-benar diluncurkan. Aspek keselamatan menjadi penting mengingat karakter tekanan CNG berbeda secara signifikan dibandingkan LPG.
Berapa Harga CNG 3 Kg?
Sampai awal Oktober 2026, pemerintah belum menetapkan harga jual resmi CNG 3 kg untuk masyarakat. Skema bisnis dan tata niaganya masih akan dibahas setelah pengujian penggunaan selesai. Penentuan pihak penjual, pemasok tabung dan fasilitas pengisian juga belum final.
Karena itu, perbandingan langsung mengenai harga CNG 3 kg dengan LPG 3 kg belum dapat dilakukan berdasarkan tarif konsumen final. Harga akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan daya tarik produk ketika diperkenalkan lebih luas. Masyarakat masih harus menunggu keputusan resmi Kementerian ESDM.
CNG Diharapkan Bisa Kurangi Ketergantungan Impor LPG
Pengembangan CNG mempunyai dimensi yang lebih luas dari sekadar menghadirkan jenis tabung gas baru. Pemerintah ingin meningkatkan pemanfaatan sumber energi yang tersedia di dalam negeri. Tingginya kebutuhan impor LPG menjadi salah satu alasan diversifikasi energi terus didorong.
Bahlil sebelumnya menyebut CNG sebagai salah satu alternatif untuk mendorong kemandirian energi di sektor yang selama ini bergantung pada LPG. Pemerintah juga menjalankan strategi lain, termasuk pengembangan jaringan gas dan opsi diversifikasi energi lainnya. Dengan demikian, CNG 3 kg merupakan salah satu bagian dari kebijakan yang lebih luas.
Tahapan terdekat adalah menyelesaikan evaluasi penggunaan CNG 3 kg selama satu bulan. Data yang dikumpulkan setiap hari akan digunakan untuk melihat aspek teknis, penggunaan dan distribusi. Pemerintah kemudian akan melakukan review menyeluruh setelah minggu keempat.
Setelah itu, fokus bergeser pada pembentukan skema tata niaga. Pemerintah harus menentukan pihak yang menjual, memasok tabung, menyediakan gas, melakukan pengisian hingga mengatur distribusinya. Produksi massal baru direncanakan setelah skema tersebut selesai ditetapkan.
Belum ada tanggal resmi mengenai kapan CNG 3 kg mulai dijual kepada masyarakat luas. Pada 30 September 2026, Laode mengatakan keputusan apakah program dimulai tahun ini atau tahun depan masih akan diumumkan oleh Menteri ESDM. Produksi massal pun masih menunggu penyelesaian skema pelaksanaan.
Artinya, hasil uji coba yang positif sekalipun masih harus dilanjutkan dengan persiapan rantai pasok. Pemerintah perlu memastikan tabung, fasilitas pengisian, transportasi dan penjual siap sebelum produk diluncurkan secara luas. Masyarakat sebaiknya menunggu pengumuman resmi pemerintah mengenai jadwal implementasinya.
Uji coba gas CNG 3 kg kini memasuki tahap evaluasi akhir setelah sebelumnya melewati berbagai pengujian teknis dan keamanan. Per 30 September 2026, penggunaan langsung oleh UMKM di lingkungan Lemigas telah berlangsung sekitar tiga pekan dan dipantau setiap hari. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan setelah masa uji coba mencapai satu bulan.
CNG 3 kg dikembangkan sebagai salah satu alternatif LPG 3 kg dengan memanfaatkan sumber gas dalam negeri. Namun, produk tersebut belum diproduksi massal dan belum mempunyai jadwal peluncuran maupun harga jual resmi. Setelah uji coba selesai, pemerintah akan terlebih dahulu menentukan skema distribusi, pemasok tabung, lokasi pengisian dan pihak yang menjual CNG sebelum menentukan implementasi secara lebih luas.
Referensi
- Kementerian ESDM RI, “Optimalkan Gas Domestik, Pemerintah Kaji Pemanfaatan CNG Nasional,” 27 April 2026.
- ANTARA, “Menteri Bahlil Sebut Pengujian CNG 3 Kg Masuki Tahap Akhir,” 3 Agustus 2026.
- ANTARA, “Kementerian ESDM: Tabung CNG 3 Kg Masuki Tahap Uji Coba ke Masyarakat,” September 2026.
- ANTARA, “ESDM Sebut Pengiriman CNG 3 Kg Harus Gunakan Bak Tertutup,” 30 September 2026.
- Bloomberg Technoz, “Uji Coba CNG 3 Kg Masuk Evaluasi Akhir, ESDM Godok Skema Niaga,” 30 September 2026.
- Bloomberg Technoz, “Produksi Massal CNG 3 Kg Masih Tunggu Keputusan Menteri Bahlil,” 30 September 2026.
- Warta Ekonomi, “ESDM Tentukan Pemain CNG 3 Kg Usai Uji Coba Rampung,” 30 September 2026.
- detikFinance, “Uji Coba Tabung CNG 3 Kg Masuk Tahap Akhir,” 3 Agustus 2026.
