Prabowo
Uncategorized

Mahfud MD Soroti Perubahan Gaya Prabowo, dari Jarang ke Luar Negeri hingga Lebih Hati-hati Berpidato

Mahfud MD menilai Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan perubahan dalam menjalankan pemerintahan, mulai dari semakin jarang melakukan perjalanan ke luar negeri hingga lebih berhati-hati saat berpidato. Bagi Mahfud, perubahan tersebut menunjukkan kritik publik tampak mendapat perhatian, meski ia tidak memastikan apakah perubahan Prabowo memang secara langsung dipicu oleh kritik.

bikinews – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyoroti perubahan gaya Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Mahfud, ada sejumlah kebiasaan Prabowo yang kini terlihat berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Salah satu yang paling noticeable adalah intensitas perjalanan Presiden ke luar negeri.

Mahfud melihat Prabowo kini jauh lebih jarang melakukan kunjungan ke luar negeri. Padahal, pada periode sebelumnya, perjalanan internasional Presiden cukup sering mendapatkan perhatian sekaligus kritik dari publik.

Perubahan lainnya terlihat dari gaya komunikasi.

Prabowo yang dikenal cukup ekspresif dan sering melakukan improvisasi ketika menyampaikan pidato kini dinilai Mahfud lebih berhati-hati.

Mahfud juga menyinggung pembenahan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia melihat mulai ada perubahan kebijakan dalam pengelolaan program tersebut yang menurutnya patut diapresiasi, meski persoalan di lapangan belum sepenuhnya selesai.

Basically, Mahfud melihat ada shifting style dalam pemerintahan Prabowo.

Penilaian tersebut disampaikan Mahfud dalam video yang diunggah melalui kanal YouTube pribadinya pada Rabu, 2 September 2026.

Mahfud secara eksplisit mengatakan Prabowo terlihat mengalami perubahan.

Salah satu indikator yang ia gunakan adalah perjalanan ke luar negeri.

“Pak Prabowo nampak berubah,” kata Mahfud.

Menurut Mahfud, pada periode sebelumnya Prabowo cukup intens melakukan perjalanan internasional. Namun, kebiasaan tersebut belakangan terlihat berkurang.

Ia kemudian menghubungkan fenomena itu dengan kritik yang pernah disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus diplomat Dino Patti Djalal mengenai intensitas perjalanan luar negeri Presiden.

Meski demikian, Mahfud memberikan important disclaimer.

Ia tidak mengetahui apakah perubahan tersebut benar-benar terjadi sebagai respons langsung terhadap kritik Dino maupun kritik publik secara umum.

Artinya, Mahfud melihat adanya korelasi waktu, tetapi tidak mengklaim memiliki bukti mengenai hubungan sebab-akibatnya.

Prabowo Dinilai Makin Jarang ke Luar Negeri

Prabowo

Perjalanan internasional Prabowo menjadi poin pertama yang disoroti Mahfud.

Menurut pengamatannya, Prabowo tidak lagi terlihat melakukan perjalanan luar negeri dengan frekuensi seperti sebelumnya.

Mahfud mengatakan setelah periode Ramadan 2026, perjalanan tersebut terlihat jauh berkurang.

Pada awal pemerintahannya, diplomasi internasional memang menjadi salah satu bagian yang cukup prominent dari aktivitas Prabowo.

Presiden melakukan berbagai pertemuan dengan pemimpin dunia dan menghadiri agenda internasional. Intensitas perjalanan tersebut kemudian mendapatkan respons beragam.

Ada pihak yang memandangnya sebagai bagian penting dari diplomasi Indonesia.

Namun, kritik juga muncul terkait frekuensi perjalanan tersebut.

Mahfud kini melihat ada perubahan dalam pola aktivitas Presiden.

Bagi Mahfud, perubahan itu menjadi menarik karena terjadi setelah munculnya kritik publik terhadap perjalanan internasional Prabowo.

Mahfud secara khusus menyebut nama Dino Patti Djalal ketika membahas persoalan tersebut.

Dino merupakan diplomat senior Indonesia yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri serta Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.

Mahfud menyebut kritik mengenai intensitas perjalanan luar negeri Prabowo sebelumnya antara lain dimotori Dino.

Setelah kritik tersebut mencuat, Mahfud melihat Prabowo menjadi lebih jarang bepergian ke luar negeri.

Namun, sekali lagi, Mahfud tidak memastikan keduanya memiliki direct connection.

Ini penting karena perubahan jadwal perjalanan seorang presiden bisa dipengaruhi banyak faktor, mulai dari agenda domestik, kondisi internasional, prioritas pemerintahan, hingga kebutuhan diplomasi.

Yang disoroti Mahfud adalah perubahan yang secara kasat mata ia lihat.

Gaya Pidato Prabowo Juga Dinilai Berubah

Bukan cuma soal perjalanan luar negeri.

Mahfud juga menyoroti perubahan gaya komunikasi Prabowo.

Menurutnya, Presiden kini terlihat lebih berhati-hati ketika melakukan improvisasi saat menyampaikan pidato.

Prabowo memang dikenal memiliki gaya public speaking yang ekspresif.

Dalam berbagai kesempatan, ia tidak hanya membaca teks pidato yang telah dipersiapkan. Prabowo kerap melakukan improvisasi, memberikan komentar spontan, menggunakan analogi, bahkan menyampaikan humor.

Gaya tersebut memiliki kelebihan karena bisa membuat pidato terasa lebih personal dan less scripted.

Namun, spontanitas juga membawa risiko.

Potongan pernyataan tertentu bisa keluar dari konteks, menjadi viral di media sosial, kemudian berkembang menjadi meme maupun parodi.

Mahfud melihat porsi improvisasi Prabowo sekarang mulai berkurang.

“Improvisasinya ada tapi sedikit-sedikit,” ujar Mahfud.

Mahfud Nilai Improvisasi Berlebihan Bisa Kurangi Wibawa Presiden

Mahfud sebenarnya tidak mempermasalahkan improvisasi dalam pidato.

Namun, ia menilai porsinya perlu dijaga.

Menurut Mahfud, terlalu banyak improvisasi justru bisa menghasilkan efek yang berbeda dari tujuan awal.

Alih-alih menambah kedekatan atau kewibawaan seorang pemimpin, beberapa bagian pidato bisa menjadi bahan lelucon di ruang publik.

Mahfud menyinggung munculnya meme dan parodi terhadap berbagai pernyataan Presiden.

Ia melihat fenomena tersebut cukup sensitif karena yang menjadi objek adalah kepala negara.

Dalam perspektif Mahfud, gaya komunikasi seorang presiden tidak hanya berhubungan dengan kemampuan menyampaikan pesan.

Ada aspek presidential dignity yang juga harus dipertahankan.

Presiden merupakan simbol negara sehingga cara berbicara, gestur, hingga pernyataan spontan dapat memiliki bobot politik yang lebih besar dibandingkan pernyataan pejabat biasa.

Media sosial memang mengubah cara publik merespons komunikasi politik.

Pidato yang berlangsung selama satu jam bisa dipotong menjadi video berdurasi 15 detik.

Satu ekspresi bisa berubah menjadi meme.

Satu kalimat spontan bahkan bisa menjadi bahan parodi selama berminggu-minggu.

Mahfud melihat fenomena tersebut juga terjadi terhadap Prabowo.

Ia mengakui parodi yang beredar mungkin terasa lucu dan menghibur. Namun, Mahfud menilai ada titik ketika humor terhadap seorang presiden dapat bergeser menjadi sesuatu yang dianggap merendahkan posisi kepala negara.

Karena itu, perubahan gaya komunikasi Prabowo yang menjadi lebih terukur dipandang Mahfud sebagai perkembangan positif.

The point is not about avoiding criticism.

Yang menjadi perhatian adalah bagaimana seorang kepala negara menjaga komunikasi publik agar tetap efektif tanpa kehilangan karakter personal maupun kewibawaannya.

Tak Hanya Gaya Prabowo, Mahfud Soroti Perubahan Program MBG

Menariknya, observasi Mahfud tidak berhenti pada personal style Prabowo.

Ia juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis.

Mahfud menilai MBG mulai mengalami penataan ulang.

“MBG sudah ditata ulang,” kata Mahfud.

Menurutnya, masih terdapat beberapa persoalan dalam pelaksanaan program tersebut. Namun, ia melihat sudah ada perubahan kebijakan yang mengarah pada pembenahan.

Mahfud bahkan memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan baru dalam pengelolaan program.

Ia berharap respons terhadap persoalan MBG dapat terus dilanjutkan sehingga perbaikan tidak hanya terjadi di level kebijakan, tetapi juga terasa pada implementasi di lapangan.

Sikap tersebut menarik karena menunjukkan kritik Mahfud tidak selalu berakhir pada penilaian negatif.

Ketika melihat adanya perbaikan, ia juga memberikan acknowledgment.

Benang merah dari sejumlah pernyataan Mahfud adalah kritik.

Mulai dari perjalanan luar negeri, gaya pidato, hingga persoalan MBG, semuanya pernah menjadi bagian dari perdebatan publik.

Mahfud melihat beberapa hal tersebut kini mengalami perubahan.

Apakah itu berarti Prabowo mendengarkan kritik?

Mahfud tidak memberikan kesimpulan absolut.

Namun, observasinya mengarah pada kemungkinan bahwa pemerintah semakin memperhatikan feedback yang berkembang di ruang publik.

Jika benar demikian, hal tersebut menjadi dinamika yang cukup penting dalam pemerintahan.

Kritik dalam sistem demokrasi memang idealnya tidak diposisikan sebagai serangan personal terhadap pemerintah.

Kritik bisa menjadi feedback mechanism.

Pemerintah tentu tidak harus mengikuti seluruh kritik yang muncul. Apalagi media sosial sering menghadirkan opini yang saling bertentangan.

Namun, kritik yang memiliki basis argumentasi dan kepentingan publik tetap dapat menjadi bahan evaluasi.

Gaya Kepemimpinan Prabowo Memang Sulit Ditebak

Mahfud sebelumnya juga pernah memberikan penilaian menarik mengenai karakter kepemimpinan Prabowo.

Pada Februari 2026, ketika muncul spekulasi mengenai reshuffle kabinet, Mahfud mengingatkan publik agar tidak terlalu percaya diri menebak keputusan Prabowo.

Ia menilai Prabowo memiliki gaya yang sulit ditebak dan tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan tekanan opini publik atau pemberitaan media.

Mahfud bahkan pernah membandingkan karakter tersebut dengan Presiden kedua RI Soeharto dalam konteks kecenderungan mengambil keputusan tanpa harus terlebih dahulu mengikuti kegaduhan publik.

Penilaian tersebut memberikan konteks menarik terhadap pernyataan Mahfud sekarang.

Di satu sisi, Prabowo dipandang sebagai pemimpin yang tidak mudah didikte opini.

Di sisi lain, Mahfud kini melihat sejumlah perubahan yang muncul setelah adanya kritik.

Dua hal tersebut tidak necessarily bertentangan.

Seorang presiden dapat tetap memiliki independensi dalam mengambil keputusan sambil menggunakan kritik publik sebagai salah satu input untuk melakukan evaluasi.

Perubahan Gaya Prabowo Bisa Jadi Strategi Komunikasi Baru

Perubahan gaya pidato Prabowo juga dapat dilihat dalam konteks komunikasi politik.

Pada masa kampanye, seorang kandidat memiliki kebutuhan komunikasi yang berbeda dengan seorang presiden.

Kandidat perlu mendapatkan perhatian, membangun identitas politik, serta menciptakan emotional connection dengan pemilih.

Setelah menjadi presiden, komunikasinya membawa konsekuensi berbeda.

Satu pernyataan kepala negara dapat memengaruhi persepsi investor, birokrasi, pelaku usaha, masyarakat, bahkan hubungan dengan negara lain.

Karena itu, komunikasi Presiden naturally membutuhkan tingkat kehati-hatian lebih tinggi.

Jika pengamatan Mahfud benar bahwa improvisasi Prabowo kini semakin terbatas, perubahan tersebut dapat menjadi bagian dari proses adaptasi komunikasi seorang kepala pemerintahan.

Bukan berarti Prabowo harus kehilangan gaya khasnya.

Justru challenge-nya adalah mempertahankan karakter komunikasi yang kuat sambil memastikan pesan pemerintah tetap clear, disciplined, dan tidak menciptakan kontroversi yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pernyataan Mahfud MD mengenai perubahan gaya Prabowo pada akhirnya bukan sekadar komentar mengenai perjalanan luar negeri atau cara berpidato.

Ada bigger picture yang bisa dibaca.

Mahfud melihat pemerintahan Prabowo menunjukkan perubahan pada beberapa area yang sebelumnya mendapatkan kritik.

Perjalanan luar negeri dinilai berkurang.

Gaya pidato disebut lebih berhati-hati.

Program MBG mulai mengalami penataan ulang.

Mahfud tidak mengklaim seluruh perubahan tersebut merupakan direct result dari kritik publik. Namun, ia melihat adanya perkembangan yang patut diapresiasi.

Di sinilah kritik dan pemerintahan sebenarnya bisa bertemu.

Kritik tidak selalu harus berakhir dengan konflik antara pemerintah dan pengkritiknya. Ketika kritik memiliki dasar yang reasonable, pemerintah dapat menjadikannya sebagai bahan evaluasi.

Sebaliknya, ketika pemerintah melakukan perbaikan, pihak yang sebelumnya memberikan kritik juga perlu mengakuinya.

Mahfud tampaknya mengambil posisi tersebut.

Ia tetap memberikan catatan terhadap pemerintahan Prabowo, tetapi juga mengakui ketika melihat adanya perubahan positif.

Pada akhirnya, ukuran paling penting bukan sekadar apakah gaya Prabowo berubah.

Yang lebih substantive adalah apakah perubahan gaya dan kebijakan tersebut dapat membuat pemerintahan menjadi lebih efektif, responsif terhadap masyarakat, dan tetap menjaga kewibawaan institusi kepresidenan.

Kalau perubahan itu terus berjalan ke arah tersebut, then it is definitely worth watching.

Referensi

  1. Warta Ekonomi, 2 September 2026 — Mahfud MD Akui Prabowo Banyak Berubah, Sudah Lama Dia Tidak…
  2. Frekuensi Informasi, 2 September 2026 — Mahfud MD: Prabowo Kini Terlihat Lebih Jarang Tugas Luar Negeri.
  3. Democrazy, 3 September 2026 — Mahfud MD Ungkap ‘Perubahan Drastis’ Gaya Kepemimpinan Prabowo, 2 Hal Ini Jadi Sorotan.
  4. Mahfud MD Official/YouTube, Februari 2026 — Pernyataan Mahfud mengenai karakter dan gaya pengambilan keputusan Presiden Prabowo.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *