bikinews – Banten kembali menjadi sorotan setelah viralnya tumpukan sampah yang menutupi aliran Sungai Cibanten di Kota Serang. Kondisi ini bukan sekadar masalah estetika lingkungan, tetapi sudah masuk kategori darurat karena berpotensi memicu banjir, mencemari ekosistem sungai, hingga mengancam kesehatan masyarakat sekitar. Dalam beberapa pekan terakhir, foto dan video yang memperlihatkan hamparan sampah plastik, styrofoam, kayu, hingga limbah rumah tangga memenuhi badan sungai ramai beredar di media sosial dan memicu banyak reaksi dari publik.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah maupun masyarakat. Di tengah berbagai kampanye kebersihan lingkungan yang terus digalakkan, kenyataannya masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan ke sungai.
Sungai Cibanten Tertutup Tumpukan Sampah
Sungai Cibanten merupakan salah satu sungai penting di Kota Serang yang memiliki nilai sejarah panjang bagi masyarakat Banten. Namun kondisi sungai tersebut saat ini cukup memprihatinkan. Tumpukan sampah rumah tangga menutupi sebagian besar aliran sungai, terutama di wilayah Kelurahan Unyur dan Kecamatan Kasemen. Sampah yang mendominasi berupa plastik sekali pakai, styrofoam, pakaian bekas, bambu, ranting pohon, hingga berbagai limbah domestik lainnya.
Di beberapa titik, tumpukan sampah bahkan membentuk hamparan sepanjang hampir 100 meter. Kondisi tersebut membuat aliran air menjadi tersumbat dan memperlambat arus sungai secara signifikan.
Menurut laporan relawan lingkungan yang rutin melakukan pemantauan, sampah-sampah tersebut terbawa arus dari wilayah hulu dan kemudian tersangkut pada pohon tumbang yang melintang di tengah sungai. Akibatnya, sampah terus menumpuk selama berhari-hari hingga membentuk semacam “pulau sampah” yang menghalangi aliran air.
Ancaman Banjir Mengintai Warga Sekitar
Kalau ngomongin dampaknya, ini bukan cuma soal sungai yang kelihatan kotor. Masalah utamanya adalah risiko banjir yang meningkat drastis ketika curah hujan tinggi.
Ketika sampah menyumbat aliran sungai, kapasitas sungai untuk menampung dan mengalirkan air menjadi berkurang. Saat hujan deras datang, air akan lebih mudah meluap ke permukiman warga karena jalur alirannya terhambat oleh tumpukan sampah. Kondisi inilah yang menjadi kekhawatiran utama pemerintah daerah dan para pegiat lingkungan.
Beberapa warga mengaku khawatir karena kawasan sekitar Sungai Cibanten memang termasuk wilayah yang rentan mengalami genangan ketika musim hujan tiba. Jika masalah sampah tidak segera ditangani secara berkelanjutan, potensi banjir bisa semakin besar setiap tahunnya.
Selain banjir, penyumbatan aliran sungai juga dapat menyebabkan pendangkalan sungai yang membuat proses normalisasi menjadi lebih sulit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Pemerintah dan Relawan Angkut Belasan Ton Sampah
Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan, berbagai pihak akhirnya turun tangan melakukan aksi pembersihan besar-besaran.
Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas PUPR, BPBD, DLH Kota Serang, Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3), komunitas lingkungan, hingga anggota Pramuka melakukan operasi pembersihan selama beberapa hari. Hasilnya, sekitar 15 ton sampah berhasil diangkut dari Sungai Cibanten menggunakan lima unit dump truck menuju TPA Cilowong.
Proses pembersihan tidak berjalan mudah. Banyak titik penumpukan sampah berada di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan berat. Petugas dan relawan harus mengurai tumpukan sampah secara manual sebelum memindahkannya ke area yang bisa diakses truk pengangkut.
Meski begitu, pekerjaan mereka belum sepenuhnya selesai. Setelah pengangkutan belasan ton sampah, masih ditemukan beberapa titik lain yang mengalami penumpukan serupa dan membutuhkan penanganan lanjutan.
Sampah Datang Lagi Meski Sudah Dibersihkan

Salah satu fakta yang cukup bikin geleng-geleng kepala adalah munculnya tumpukan sampah baru setelah proses pembersihan dilakukan.
Beberapa hari setelah operasi pembersihan besar-besaran, relawan kembali menemukan titik penumpukan sampah lain yang bahkan disebut lebih parah dibanding lokasi sebelumnya. Hamparan sampah plastik, styrofoam, kayu, hingga kasur bekas kembali menutupi aliran sungai di wilayah Kasemen.
Hal ini menunjukkan bahwa akar masalahnya bukan sekadar membersihkan sungai, melainkan mengubah perilaku masyarakat yang masih terbiasa membuang sampah sembarangan.
Bahkan menurut laporan relawan, saat kegiatan bersih-bersih berlangsung masih ditemukan warga yang membuang sampah ke sungai dari atas jembatan maupun ke area bantaran sungai. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa edukasi dan kesadaran lingkungan masih menjadi tantangan besar di wilayah tersebut.
Dampak Lingkungan yang Lebih Serius
Selain memicu banjir, tumpukan sampah juga memberikan dampak serius terhadap lingkungan.
Sampah plastik dan styrofoam membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Ketika masuk ke sungai, material tersebut akan mencemari kualitas air dan mengganggu kehidupan biota air. Beberapa relawan bahkan menemukan ikan yang terjebak di sela-sela tumpukan sampah yang mengendap di dasar sungai.
Air sungai yang tercemar juga dapat menjadi sumber penyakit bagi masyarakat sekitar. Bau tidak sedap, berkembangnya lalat, hingga munculnya bakteri berbahaya menjadi risiko nyata yang dapat memengaruhi kesehatan warga.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Sungai Cibanten akan kehilangan fungsi ekologisnya sebagai sumber kehidupan dan penyangga lingkungan bagi masyarakat Kota Serang.
Solusi yang Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Pemerintah
Masalah sampah di sungai sebenarnya tidak bisa diselesaikan hanya dengan operasi bersih-bersih sesaat.
Yang dibutuhkan adalah kombinasi antara penegakan aturan, edukasi masyarakat, penyediaan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai, serta pengawasan yang konsisten. Para pegiat lingkungan mendorong pemerintah untuk memperkuat penerapan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah, termasuk memberikan sanksi bagi pelaku pembuangan sampah sembarangan.
Selain itu, masyarakat juga perlu mulai mengubah kebiasaan sehari-hari. Sesimpel membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah rumah tangga, dan tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir sudah bisa memberikan dampak besar bagi lingkungan.
Kasus tumpukan sampah yang menutupi aliran Sungai Cibanten di Banten menjadi alarm keras bahwa persoalan sampah masih jauh dari selesai. Belasan ton sampah memang berhasil diangkut, tetapi masalah utama tetap ada selama kebiasaan membuang sampah sembarangan belum berubah.
Sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi tempat penumpukan limbah rumah tangga. Jika tidak ada langkah tegas dan kolaborasi antara pemerintah serta masyarakat, ancaman banjir, pencemaran lingkungan, dan kerusakan ekosistem akan terus menghantui wilayah Banten, khususnya Kota Serang. Pada akhirnya, menjaga sungai bukan cuma tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama.
Referensi
- DetikNews — Sungai Cibanten Kota Serang Dipenuhi Sampah, 15 Ton Berhasil Diangkut
- Suara Banten — 15 Ton Sampah Diangkat di Sungai Cibanten, Kota Serang Waspada Ancaman Banjir
- Radar Banten — 15 Ton Sampah Berhasil Diangkut dari Sungai Cibanten
- Kabar Banten — 9 Ton Sampah Diangkat dari Sungai Cibanten Kota Serang
- iNews Banten — Aliran Sungai Cibanten Tertutup Sampah, Ancaman Banjir Kembali Intai Warga
- Liputan6 — Sungai Bersejarah di Banten Kini Jadi Lautan Sampah
- DetikNews — Miris! Banyak Sampah Dibuang ke Sungai Cibanten, Bahkan Ada Kasur
