“Palembang menjadi kota dengan kualitas udara paling buruk di Indonesia berdasarkan pemantauan kualitas udara pada Minggu, 20 September 2026. Kondisi ini menjadi reminder bahwa polusi udara bukan sekadar persoalan langit terlihat berkabut, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat.”
bikinews – Kualitas udara Kota Palembang, Sumatera Selatan, menjadi sorotan setelah menempati posisi terburuk di Indonesia berdasarkan data pemantauan kualitas udara pada Minggu (20/9/2026). Data IQAir yang dikutip ANTARA menunjukkan indeks kualitas udara atau AQI Palembang berada pada angka 154 pada pagi hari.
Angka tersebut menempatkan kualitas udara Palembang dalam kategori tidak sehat. Polutan utama yang menjadi perhatian adalah partikel halus PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Kondisi tersebut membuat Palembang berada di atas sejumlah kota lain yang juga mencatat kualitas udara kurang baik pada waktu pemantauan. Situasinya cukup concerning karena paparan polusi udara dalam konsentrasi tinggi dapat memberikan dampak lebih besar kepada kelompok masyarakat yang rentan.
Palembang Catat AQI 154
Berdasarkan data IQAir yang diberitakan ANTARA, Palembang mencatat AQI 154 pada Minggu pagi. Pada skala AQI yang digunakan IQAir, angka antara 151 sampai 200 masuk dalam kategori tidak sehat.
Artinya, kondisi udara tidak lagi hanya menjadi perhatian kelompok sensitif. Masyarakat secara umum juga dapat mulai mengalami dampak kesehatan apabila terpapar dalam durasi tertentu, sementara kelompok rentan menghadapi risiko yang lebih tinggi.
PM2.5 tercatat sebagai polutan utama dalam pengukuran tersebut. Partikel ini mempunyai diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia.
Karena ukurannya extremely tiny, PM2.5 dapat terhirup hingga mencapai bagian dalam paru-paru. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menempatkan polusi partikulat sebagai salah satu persoalan penting dalam kesehatan lingkungan.
Apa Itu PM2.5 yang Membuat Udara Palembang Memburuk?

PM2.5 merupakan partikel halus yang dapat berasal dari berbagai sumber. Emisi kendaraan, pembakaran bahan bakar, aktivitas industri, pembakaran terbuka, debu, hingga kebakaran lahan dapat berkontribusi terhadap konsentrasi partikulat di udara.
Namun, data kualitas udara pada satu waktu tidak otomatis dapat digunakan untuk menyimpulkan sumber utama polusi di Palembang. Dibutuhkan data meteorologi, pemantauan emisi, kondisi kebakaran lahan, arah angin, serta analisis sumber polutan untuk menentukan penyebab secara lebih precise.
Hal tersebut penting karena Sumatera Selatan memiliki sejarah persoalan kabut asap dan kebakaran hutan serta lahan pada musim-musim tertentu. Meski demikian, tingginya AQI pada 20 September tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh polusi saat itu berasal dari karhutla.
Kondisi atmosfer juga dapat memengaruhi seberapa cepat polutan terdispersi. Kecepatan angin, suhu, kelembapan, hujan, dan stabilitas atmosfer dapat membuat konsentrasi polutan berubah bahkan dalam hitungan jam.
Kualitas Udara Bisa Berubah dengan Cepat
Status Palembang sebagai kota dengan kualitas udara terburuk perlu dipahami sebagai snapshot berdasarkan waktu pemantauan. Ranking kualitas udara bersifat dinamis dan dapat berubah ketika konsentrasi polutan di Palembang maupun kota-kota lainnya mengalami perubahan.
Jadi, label “kota dengan udara terburuk” bukan status permanen Palembang. Kota yang berada di posisi pertama pada pagi hari belum tentu masih berada di posisi yang sama pada siang atau malam.
Ini menjadi konteks penting ketika membaca ranking kualitas udara secara online. Data real-time sangat useful untuk mengetahui kondisi saat ini, tetapi kurang tepat apabila satu snapshot digunakan untuk menyimpulkan kualitas udara sebuah kota sepanjang tahun.
Untuk menentukan tren jangka panjang, diperlukan data rata-rata dengan periode yang lebih panjang. Analisis tahunan juga perlu mempertimbangkan pola musim, curah hujan, aktivitas transportasi, industri, serta berbagai sumber emisi lainnya.
Mengapa Kualitas Udara Tidak Sehat Perlu Diwaspadai?
Ketika AQI berada dalam kategori tidak sehat, paparan udara menjadi persoalan kesehatan yang perlu diperhatikan. Partikel PM2.5 dapat masuk ke sistem pernapasan dan paparan dalam jumlah tinggi dapat memperburuk sejumlah gangguan kesehatan.
WHO menyatakan paparan polusi udara berkaitan dengan penyakit kardiovaskular dan pernapasan. Paparan jangka panjang terhadap PM2.5 juga menjadi salah satu perhatian utama dalam kebijakan kesehatan lingkungan secara global.
Kelompok tertentu mempunyai tingkat kerentanan yang lebih tinggi. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau gangguan pernapasan perlu lebih aware ketika kualitas udara memburuk.
Bukan berarti setiap orang yang keluar rumah saat AQI mencapai 154 pasti langsung mengalami gangguan kesehatan. Risiko dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, lamanya paparan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, serta karakteristik individu.
Ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, mengurangi paparan menjadi salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan. Aktivitas fisik berat di luar ruangan dapat meningkatkan jumlah udara yang masuk ke paru-paru sehingga paparan terhadap polutan juga dapat meningkat.
Karena itu, masyarakat dapat memantau AQI sebelum melakukan olahraga outdoor dalam waktu lama. Jika kondisi memburuk, kegiatan dapat dipindahkan ke dalam ruangan atau dijadwalkan ketika kualitas udara sudah membaik.
Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti respirator partikulat yang terpasang dengan baik, dapat membantu mengurangi paparan PM2.5 ketika seseorang memang harus berada di luar. Masker kain biasa tidak memberikan tingkat filtrasi partikulat halus yang sama.
Menutup jendela ketika polusi dari luar sedang tinggi juga dapat membantu dalam kondisi tertentu, terutama jika ruangan memiliki sistem filtrasi udara. Namun, kebutuhan ventilasi tetap harus dipertimbangkan agar kualitas udara di dalam ruangan juga tidak memburuk akibat sumber polusi indoor.
Persoalan polusi udara tidak hanya terjadi di Palembang. Kota-kota besar Indonesia secara berkala menghadapi peningkatan konsentrasi PM2.5 akibat kombinasi transportasi, industri, pembangkit energi, pembakaran, kondisi meteorologi, serta sumber emisi lainnya.
Jakarta dan wilayah metropolitan di sekitarnya, misalnya, telah berulang kali menjadi sorotan akibat persoalan kualitas udara. Kota-kota di Sumatera dan Kalimantan juga dapat menghadapi tekanan tambahan pada periode kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, ranking harian sebenarnya hanya menunjukkan salah satu sisi persoalan. Bigger picture-nya adalah bagaimana pemerintah daerah dan pusat menekan emisi secara konsisten sehingga konsentrasi PM2.5 dapat berkurang dalam jangka panjang.
Solusinya juga tidak dapat hanya dibebankan kepada masyarakat dengan meminta mereka memakai masker. Intervensi terhadap sumber emisi menjadi komponen fundamental jika targetnya adalah memperbaiki kualitas udara secara sustainable.
Ancaman Karhutla Tetap Menjadi Perhatian Sumatera Selatan
Sumatera Selatan termasuk salah satu provinsi yang mempunyai kawasan lahan gambut dan pernah menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Pada periode kering, risiko kebakaran dapat meningkat dan asapnya berpotensi memengaruhi kualitas udara di berbagai wilayah.
Partikel yang dihasilkan pembakaran biomassa dapat berkontribusi terhadap PM2.5. Jika kondisi angin membawa asap menuju kawasan perkotaan, kualitas udara dapat mengalami penurunan meskipun titik kebakaran berada cukup jauh.
Namun, sekali lagi, hubungan tersebut harus didasarkan pada data pada hari kejadian. Tingginya AQI Palembang tidak seharusnya langsung diklaim sebagai akibat karhutla tanpa konfirmasi dari data hotspot, arah angin, pemerintah daerah, BMKG, atau instansi terkait.
Pendekatan seperti ini penting agar informasi kualitas udara tidak berubah menjadi speculation. Data AQI menjelaskan seberapa tercemar udara, sementara identifikasi penyebab membutuhkan layer informasi tambahan.
Cuaca Ikut Menentukan Konsentrasi Polusi
Ada alasan mengapa kualitas udara suatu kota bisa buruk pada pagi hari lalu membaik beberapa jam kemudian. Kondisi cuaca mempunyai pengaruh besar terhadap proses penyebaran polutan di atmosfer.
Angin yang cukup kuat dapat membantu mendispersikan polutan sehingga konsentrasinya menurun di suatu lokasi. Sebaliknya, kondisi atmosfer yang relatif stabil dan angin lemah dapat membuat polutan bertahan lebih lama dekat permukaan.
Hujan juga dapat membantu membersihkan sebagian partikulat dari atmosfer. Karena itu, perubahan cuaca sering beriringan dengan perubahan pembacaan kualitas udara.
Inilah alasan ranking real-time harus selalu dilengkapi timestamp. Angka AQI tanpa informasi kapan pengukuran dilakukan dapat kehilangan konteks dan membuat pembaca mengira kondisi tersebut berlaku sepanjang hari.
Langkah paling simple adalah mengecek kualitas udara sebelum melakukan aktivitas panjang di luar rumah. Data dapat berubah dalam waktu relatif singkat sehingga pemantauan real-time jauh lebih relevant dibandingkan hanya mengandalkan kondisi visual langit.
Ketika AQI masuk kategori tidak sehat, masyarakat dapat mengurangi durasi aktivitas outdoor yang berat. Kelompok sensitif sebaiknya memberikan perhatian ekstra terhadap rekomendasi kesehatan dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan.
Masyarakat juga dapat membantu mengurangi sumber polusi dari aktivitas sehari-hari. Menghindari pembakaran sampah terbuka, menggunakan transportasi secara lebih efisien, serta menjaga kendaraan agar emisinya terkendali merupakan beberapa langkah pada level individu.
Namun, perubahan individual tetap harus berjalan bersama kebijakan struktural. Pengendalian emisi industri, transportasi publik, pencegahan karhutla, pengawasan pembakaran terbuka, serta monitoring kualitas udara membutuhkan peran pemerintah dan sektor usaha.
AQI pada dasarnya dibuat untuk menerjemahkan konsentrasi polutan menjadi informasi yang lebih mudah dipahami masyarakat. Semakin tinggi nilainya, semakin besar pula tingkat perhatian terhadap potensi dampak kesehatan.
Namun, platform kualitas udara dapat menggunakan sumber sensor dan metodologi yang berbeda. Karena itu, pembacaan dari IQAir dapat dibandingkan dengan data dari platform resmi pemerintah untuk mendapatkan gambaran yang lebih comprehensive.
Masyarakat juga perlu membedakan antara AQI dan konsentrasi PM2.5. AQI merupakan indeks, sedangkan konsentrasi PM2.5 biasanya ditampilkan dalam satuan mikrogram per meter kubik.
Keduanya related, tetapi bukan angka yang sama. Kesalahan membaca dua indikator tersebut dapat menghasilkan interpretasi yang keliru mengenai tingkat pencemaran udara.
Posisi Palembang sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia pada pemantauan Minggu pagi menjadi reminder bahwa kualitas udara dapat berubah menjadi persoalan serius tanpa selalu terlihat dramatic. Polutan seperti PM2.5 bahkan dapat berada pada konsentrasi tinggi meskipun masyarakat tidak selalu melihat asap pekat dengan mata telanjang.
Kondisi AQI 154 menunjukkan udara Palembang pada waktu pemantauan berada dalam kategori tidak sehat. Karena ranking bersifat dinamis, posisi tersebut dapat berubah, tetapi tingkat pencemaran yang tercatat tetap menjadi informasi penting bagi masyarakat.
Dalam jangka pendek, fokusnya adalah mengurangi paparan ketika kualitas udara memburuk. Dalam jangka panjang, pekerjaan yang jauh lebih challenging adalah mengidentifikasi dan mengendalikan sumber emisi agar episode udara tidak sehat semakin jarang terjadi.
Ultimately, udara bersih bukan luxury yang hanya menjadi concern ketika sebuah kota menduduki ranking pertama. Ia merupakan kebutuhan dasar yang berpengaruh terhadap kesehatan jutaan orang setiap hari.
Referensi
- ANTARA, laporan kualitas udara kota-kota Indonesia, 20 September 2026.
- IQAir, Air Quality Index (AQI) and PM2.5 Air Pollution in Palembang, data pemantauan kualitas udara real-time.
- World Health Organization (WHO), WHO Global Air Quality Guidelines, pedoman mengenai PM2.5, PM10, ozon, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dan karbon monoksida.
- Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, informasi Indeks Standar Pencemar Udara dan pemantauan kualitas udara.
- BMKG, informasi cuaca, iklim, dan pemantauan terkait kabut asap serta kebakaran hutan dan lahan.
