israel
berita terkini

Israel Mulai Operasi Darat di Lebanon Selatan, Babak Baru Konflik dengan Hezbollah

bikinews – Perbatasan Israel dan Lebanon kembali menjadi salah satu titik paling panas di Timur Tengah. Setelah berbulan-bulan diwarnai serangan udara, tembakan artileri, peluncuran roket, hingga pergerakan drone, konflik memasuki fase yang lebih serius ketika Israel mulai operasi darat di Lebanon Selatan.

Operasi tersebut bukan sekadar serangan dari kejauhan. Pasukan Israel masuk ke wilayah Lebanon dengan sasaran yang disebut militer Israel sebagai posisi dan infrastruktur Hezbollah. Israel Defense Forces atau IDF mengumumkan pada 17 Maret 2026 bahwa pasukan di bawah Divisi ke-91 telah memulai operasi darat yang disebut “terbatas dan terarah” terhadap sejumlah basis Hezbollah di Lebanon Selatan.

Perkembangan ini membuat situasi di sepanjang perbatasan berubah. Apa yang sebelumnya banyak berlangsung melalui serangan udara dan baku tembak lintas batas kini juga melibatkan tentara yang bergerak langsung di darat.

Namun cerita di Lebanon Selatan tidak berhenti pada pengumuman operasi tersebut. Dalam bulan-bulan berikutnya, keberadaan pasukan Israel di wilayah itu berlanjut bahkan ketika upaya gencatan senjata berlangsung. Memasuki September 2026, Israel mengatakan telah menguasai posisi strategis di kawasan Ali Taher dan menghancurkan jaringan bawah tanah Hezbollah di sana.

Di sisi lain, Lebanon menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pertempuran militer. Ada warga yang harus meninggalkan rumah, desa-desa yang terdampak serangan, perdebatan mengenai kedaulatan Lebanon, serta pertanyaan mengenai apakah diplomasi masih mampu menghentikan konflik yang berkali-kali kembali memanas.

Israel Mulai Operasi Darat di Lebanon Selatan pada Maret 2026

Pengumuman resmi mengenai operasi darat muncul pada pertengahan Maret 2026. IDF menyatakan bahwa pasukan Divisi ke-91 telah menjalankan operasi terbatas dan terarah terhadap apa yang disebut Israel sebagai basis utama Hezbollah di Lebanon Selatan.

Menurut militer Israel, operasi tersebut difokuskan pada wilayah yang dinilai telah digunakan Hezbollah untuk membangun infrastruktur dan titik persiapan serangan terhadap komunitas Israel di dekat perbatasan.

Sebelum pasukan bergerak masuk, Israel mengatakan telah melakukan serangan pendahuluan menggunakan artileri dan angkatan udara. Sasaran yang disebut IDF antara lain fasilitas penyimpanan senjata, lokasi peluncuran, dan infrastruktur yang dianggap mendukung aktivitas Hezbollah.

Dari sini terlihat bahwa operasi darat tidak berdiri sendiri. Serangan udara dan artileri digunakan sebagai bagian dari persiapan sebelum pasukan bergerak di lapangan.

Bagi warga yang tinggal di sekitar perbatasan, perubahan tersebut tentu memiliki arti berbeda. Garis yang selama ini menjadi pemisah geografis sekaligus politik kembali menjadi ruang pertempuran aktif.

Mengapa Israel Memilih Operasi Darat?

Menurut penjelasan IDF, tujuan operasi adalah mendorong ancaman Hezbollah lebih jauh dari komunitas Israel di wilayah utara. Israel menyebut konsep tersebut sebagai penguatan area pertahanan depan.

Militer Israel mengatakan pasukannya ditugaskan menghancurkan infrastruktur Hezbollah, menemukan dan menghancurkan senjata serta lokasi peluncuran, dan menyerang anggota Hezbollah yang beroperasi di kawasan tersebut. Pernyataan mengenai tujuan ini merupakan posisi resmi Israel dan perlu dibedakan dari penilaian independen mengenai dampak maupun legalitas operasinya.

Dari sudut pandang pemerintah Lebanon, persoalannya berbeda. Kehadiran pasukan Israel di Lebanon berkaitan langsung dengan isu integritas wilayah dan kedaulatan negara tersebut. Dalam proses diplomatik yang dimediasi Amerika Serikat pada Juni 2026, Lebanon kembali menegaskan pentingnya penghormatan terhadap perbatasan yang diakui secara internasional, integritas teritorial, dan kedaulatan penuh negara.

Artinya, satu operasi militer dapat memiliki dua narasi yang sangat berbeda. Israel membingkainya sebagai kebutuhan keamanan perbatasan, sementara bagi Lebanon keberadaan pasukan asing di wilayahnya menimbulkan persoalan kedaulatan.

Hezbollah Menjadi Pusat Konflik di Lebanon Selatan

Sulit memahami mengapa Israel mulai operasi darat di Lebanon Selatan tanpa membicarakan Hezbollah.

Kelompok bersenjata dan politik Lebanon tersebut telah lama menjadi aktor penting dalam konflik dengan Israel. Dalam eskalasi 2026, pertempuran antara keduanya kembali meningkat dan menjadi bagian dari konflik regional yang lebih luas.

Pada Maret, ketika Israel memperluas operasi darat, IDF mengatakan langkah tersebut dilakukan setelah Hezbollah kembali menyerang Israel di tengah konflik regional dengan Iran.

Konflik kemudian berkembang selama berbulan-bulan.

Di sinilah Lebanon berada dalam posisi yang rumit. Pemerintah Lebanon berusaha memperkuat kontrol negara, sementara Hezbollah mempertahankan struktur bersenjatanya dan menolak sejumlah skema yang dinilai akan memaksanya melepaskan senjata.

Pada awal Juni 2026, misalnya, pemerintah Lebanon dan Israel menyepakati kerangka gencatan senjata melalui mediasi Amerika Serikat. Salah satu elemen yang dibicarakan adalah pembentukan zona percontohan tempat Lebanese Armed Forces atau LAF mengambil kontrol eksklusif dan aktor bersenjata non-negara tidak beroperasi.

Namun Hezbollah pada awalnya menolak rencana tersebut. Reuters melaporkan pemimpin Hezbollah Naim Qassem menentang kesepakatan yang diumumkan Washington.

Ketegangan antara kepentingan negara Lebanon, posisi Hezbollah, tuntutan Israel, dan peran mediator internasional akhirnya membuat proses perdamaian jauh dari sederhana.

Dari Operasi Terbatas hingga Penguasaan Posisi Strategis

Kata “terbatas” sering muncul dalam pernyataan mengenai operasi militer Israel. Tetapi perkembangan beberapa bulan setelah Maret menunjukkan bahwa aktivitas darat tidak berakhir dalam hitungan hari.

Pada September 2026, perhatian beralih ke kawasan Ali Taher di dekat Nabatiyeh.

Israel menyatakan berhasil merebut posisi di punggungan Ali Taher setelah pertempuran selama beberapa bulan. Le Monde melaporkan pada 4 September bahwa militer Israel mengatakan telah merebut bukit strategis tersebut sehari sebelumnya. Hezbollah, pada saat yang sama, mengecilkan arti penguasaan posisi itu dan mengkritik langkah pemerintah Israel.

Ali Taher menjadi penting bukan hanya karena ketinggiannya. Israel menyatakan terdapat jaringan infrastruktur bawah tanah Hezbollah di kawasan tersebut.

Pada 11 September, IDF mengatakan pembongkaran jalur bawah tanah di punggungan Ali Taher telah selesai. Menurut militer Israel, jaringan tersebut membentang lebih dari dua kilometer dan berisi berbagai jenis senjata serta kompleks komando yang dikaitkan dengan Unit Badr Hezbollah. Klaim mengenai isi dan fungsi jaringan tersebut berasal dari IDF.

Israel kemudian menyatakan pasukannya akan tetap beroperasi di apa yang disebutnya sebagai “Security Zone” di Lebanon Selatan untuk mencegah Hezbollah membangun kembali kemampuan militernya.

Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana operasi yang bermula sebagai serangan darat terbatas berkembang menjadi kehadiran militer yang lebih panjang di sejumlah wilayah Lebanon Selatan.

Gencatan Senjata yang Berkali-kali Diuji

Cerita konflik ini menjadi semakin rumit karena operasi militer berlangsung berdampingan dengan negosiasi.

Pada 3 Juni 2026, setelah pertemuan trilateral yang dipimpin Amerika Serikat, Israel dan Lebanon menyepakati implementasi gencatan senjata. Dalam pernyataan yang dilaporkan Reuters, gencatan tersebut bergantung pada penghentian tembakan Hezbollah dan keluarnya personel Hezbollah dari sektor selatan Sungai Litani.

Tetapi kesepakatan tersebut segera menghadapi hambatan karena Hezbollah bukan pihak langsung dalam perundingan itu dan menolak kerangka yang diumumkan Washington.

Pertempuran akhirnya kembali membawa para pihak menuju upaya penghentian konflik berikutnya.

Pada 19 Juni, Israel dan Hezbollah kembali menyepakati gencatan senjata yang dimediasi dengan keterlibatan Amerika Serikat, Qatar, dan Iran. Seorang pejabat Israel mengatakan kepada Reuters bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon Selatan meskipun gencatan senjata diberlakukan.

Beberapa hari kemudian, Reuters melaporkan gencatan tersebut secara umum bertahan dan menghasilkan periode tenang terpanjang setelah sekitar tiga bulan perang, meskipun masih terdapat sejumlah insiden dan kekhawatiran bahwa pertempuran dapat kembali pecah.

Jadi, ketika mendengar istilah “gencatan senjata”, konteksnya tidak selalu berarti seluruh persoalan sudah selesai.

Pasukan masih berada di lapangan. Perselisihan mengenai wilayah masih ada. Hezbollah dan Israel tetap saling memandang sebagai ancaman. Sementara masyarakat sipil harus hidup di antara kesepakatan diplomatik yang sewaktu-waktu dapat terganggu oleh insiden baru.

Lebanon Selatan Menjadi Wilayah yang Sangat Strategis

Kalau melihat peta, Lebanon Selatan memang bukan wilayah yang sangat luas. Tetapi nilai strategisnya sangat besar.

Kawasan ini berbatasan langsung dengan Israel utara. Di sepanjang perbatasan terdapat komunitas Israel, desa-desa Lebanon, posisi militer, jalan penting, serta medan perbukitan yang memberikan keuntungan pengamatan.

Karena alasan tersebut, posisi tinggi seperti Ali Taher memiliki arti militer tersendiri.

Israel mengatakan penguasaan dan penghancuran infrastruktur di punggungan tersebut diperlukan untuk mengurangi kemampuan Hezbollah mengancam wilayah utara Israel. Hezbollah dan pihak Lebanon, sebaliknya, menentang keberadaan militer Israel di wilayah Lebanon.

Di tengah kedua pihak terdapat UNIFIL, pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa yang telah berada di Lebanon sejak 1978.

Apa Peran UNIFIL?

UNIFIL awalnya dibentuk Dewan Keamanan PBB pada 1978 untuk mengonfirmasi penarikan Israel dari Lebanon, membantu memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, serta membantu pemerintah Lebanon memulihkan otoritasnya di kawasan tersebut.

Setelah perang 2006, mandatnya diperluas. Salah satu tugasnya adalah memantau penghentian permusuhan, mendampingi serta mendukung angkatan bersenjata Lebanon di wilayah selatan, dan membantu akses kemanusiaan kepada masyarakat sipil.

Misi itu menjadi semakin sulit ketika konflik kembali meningkat pada 2026.

UNIFIL mengatakan kekerasan intensif sejak awal Maret menciptakan tantangan besar bagi pasukan penjaga perdamaian. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan posisi dan menjalankan kegiatan pemantauan di Lebanon Selatan serta sepanjang Blue Line.

Blue Line sendiri memiliki arti penting dalam konflik ini. Garis tersebut digunakan PBB dalam konteks penarikan Israel dari Lebanon dan pemantauan situasi perbatasan, tetapi bukan solusi final bagi seluruh perselisihan politik dan keamanan antara kedua negara.

Warga Sipil Menanggung Dampak Paling Berat

Di balik istilah seperti operasi darat, zona keamanan, infrastruktur bawah tanah, serangan presisi, dan gencatan senjata, ada cerita yang lebih sederhana sekaligus lebih menyakitkan: kehidupan masyarakat biasa.

Rumah adalah rumah, sampai suara ledakan membuat penghuninya harus pergi.

Jalan desa adalah jalan biasa, sampai kendaraan militer dan serangan udara mengubah cara orang melewatinya.

Sekolah adalah tempat anak-anak belajar, sampai konflik membuat keluarga lebih sibuk mencari tempat aman daripada memikirkan kegiatan sehari-hari.

Konflik 2026 menimbulkan perpindahan penduduk dalam skala besar. Reuters melaporkan pada akhir Juni bahwa lebih dari satu juta warga Lebanon telah meninggalkan rumah mereka akibat konflik yang berlangsung bersamaan dengan perang regional yang lebih luas.

Pada September, Associated Press juga menggambarkan kekhawatiran masyarakat Lebanon Selatan terhadap kemungkinan operasi Israel yang semakin luas. Presiden Lebanon Joseph Aoun melakukan kunjungan langka ke Nabatiyeh ketika warga meminta perlindungan lebih besar dari tentara Lebanon. AP mencatat konflik sebelumnya telah menewaskan ribuan orang dan membuat lebih dari satu juta orang mengungsi.

Dampak perang juga tidak otomatis menghilang ketika intensitas tembakan menurun.

Ada rumah yang rusak, aktivitas ekonomi yang berhenti, keluarga yang terpisah, dan masyarakat yang harus memulai kembali kehidupan mereka.

UNIFIL pada 17 September mengatakan pasukan penjaga perdamaian membantu masyarakat Lebanon Selatan melalui dukungan terhadap kegiatan ekonomi lokal, akses kemanusiaan, kegiatan bagi anak-anak, serta pengawalan konvoi bantuan. Menurut UNIFIL, ribuan warga masih bergantung pada jalur bantuan yang membawa makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan penting lainnya.

Mengapa Operasi Darat Israel Menjadi Perhatian Internasional?

Operasi darat memiliki konsekuensi politik yang berbeda dibandingkan serangan lintas batas.

Ketika pesawat menyerang target dari udara, perdebatan berpusat pada sasaran, korban, dan hukum konflik bersenjata. Ketika pasukan memasuki serta bertahan di wilayah negara lain, isu kedaulatan dan kontrol wilayah menjadi semakin menonjol.

Itulah sebabnya perkembangan di Lebanon Selatan tidak hanya diperhatikan oleh Israel dan Lebanon.

Amerika Serikat terlibat dalam mediasi. Qatar dan Iran ikut berperan dalam proses menuju gencatan senjata Juni. PBB memiliki UNIFIL di lapangan. Prancis juga menjadi salah satu negara yang mendorong keberlanjutan peran internasional di Lebanon.

Setiap pihak membawa kepentingannya masing-masing.

Israel menempatkan keamanan masyarakat di wilayah utara sebagai salah satu alasan utama operasinya. Pemerintah Lebanon menekankan kedaulatan negara dan kontrol Lebanese Armed Forces. Hezbollah menolak tuntutan yang dianggap bertujuan melemahkan atau melucuti kelompok tersebut. Negara-negara mediator mencoba mencari formula yang dapat mencegah perang kembali meluas.

Masalahnya, formula yang terlihat masuk akal di meja perundingan belum tentu mudah diterapkan di desa-desa Lebanon Selatan.

Risiko Konflik Israel dan Hezbollah Kembali Meluas

Salah satu pertanyaan terbesar setelah Israel mulai operasi darat di Lebanon Selatan adalah apakah konflik akan berhenti pada wilayah perbatasan atau kembali berkembang menjadi perang yang jauh lebih luas.

Pengalaman 2026 memperlihatkan bahwa deeskalasi dan eskalasi dapat terjadi bergantian.

Gencatan senjata Juni mampu menurunkan intensitas pertempuran secara signifikan. Namun keberadaan pasukan Israel, serangan yang masih terjadi, perselisihan mengenai pelucutan senjata Hezbollah, dan perebutan kontrol atas wilayah Lebanon Selatan membuat sumber ketegangan belum sepenuhnya hilang.

Pada September, kekhawatiran mengenai operasi baru kembali muncul setelah Israel merebut bagian dari punggungan Ali Taher. AP melaporkan warga Lebanon Selatan mendesak pemerintah meningkatkan perlindungan di tengah kekhawatiran akan operasi darat Israel yang lebih luas.

Situasi ini menciptakan paradoks.

Ada gencatan senjata, tetapi ada pula pasukan yang masih ditempatkan di wilayah sengketa. Ada perundingan, tetapi masing-masing pihak belum sepakat mengenai persoalan paling mendasar. Ada upaya memperkuat tentara Lebanon, tetapi Hezbollah tetap menolak pelucutan senjata dengan persyaratan yang dianggap merugikannya.

Dengan kondisi seperti itu, sebuah insiden lokal dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar.

Apa yang Sebenarnya Diperebutkan di Lebanon Selatan?

Kalau seluruh konflik ini hanya dilihat sebagai pertarungan Israel melawan Hezbollah, gambarnya menjadi terlalu sederhana.

Ada persoalan keamanan Israel. Ada kedaulatan Lebanon. Ada status persenjataan Hezbollah. Ada pengaruh Iran. Ada peran Amerika Serikat dan negara mediator lainnya. Ada mandat PBB. Dan di atas semuanya, ada masyarakat sipil yang ingin kembali menjalani kehidupan normal.

Israel ingin memastikan Hezbollah tidak memiliki kemampuan militer dekat wilayah utaranya. Pemerintah Lebanon ingin otoritas negara berlaku atas seluruh wilayahnya. Dalam kerangka diplomatik 2026, salah satu gagasan yang didorong adalah penempatan tentara Lebanon sebagai kekuatan yang memiliki kontrol eksklusif di zona tertentu.

Hezbollah memiliki pandangan berbeda terhadap upaya pelucutan senjatanya. Pada 27 Juni, Naim Qassem menolak kesepakatan keamanan yang dimediasi AS dan menyebutnya sebagai bentuk penyerahan kepada Israel.

Selama perbedaan fundamental itu belum menemukan titik temu, Lebanon Selatan kemungkinan akan tetap menjadi wilayah dengan ketegangan tinggi.

Lebanon Selatan Setelah Operasi Darat: Antara Senjata dan Diplomasi

Ketika Israel mulai operasi darat di Lebanon Selatan pada Maret 2026, peristiwa itu membuka fase baru dalam konflik yang sebelumnya sudah dipenuhi serangan lintas batas.

Beberapa bulan kemudian, gambarnya semakin kompleks.

Israel mempertahankan kehadiran militernya di bagian Lebanon Selatan dan mengatakan operasi diperlukan untuk menghancurkan infrastruktur Hezbollah. Lebanon terus menekankan kedaulatan wilayahnya. Hezbollah menolak skema pelucutan senjata yang dianggap menguntungkan Israel. Sementara mediator internasional berusaha menjaga jalur diplomasi tetap terbuka.

Di lapangan, September 2026 memberikan gambaran yang kontras. IDF menyatakan telah menyelesaikan penghancuran jaringan bawah tanah Hezbollah di Ali Taher dan akan terus beroperasi di zona keamanan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, UNIFIL berbicara tentang pasar lokal, kegiatan anak-anak, bantuan kemanusiaan, dan upaya masyarakat Lebanon Selatan membangun kembali kehidupan setelah pertempuran.

Dua cerita itu berlangsung di tempat yang sama.

Satu cerita berbicara tentang terowongan, tentara, drone, posisi strategis, dan keamanan perbatasan. Cerita lainnya berbicara tentang keluarga yang ingin pulang, pedagang yang ingin kembali membuka usaha, anak-anak yang ingin kembali beraktivitas, serta masyarakat yang berharap kehidupan tidak terus ditentukan oleh suara senjata.

Dan mungkin justru di situlah Lebanon Selatan hari ini paling mudah dipahami: bukan hanya sebagai medan pertempuran Israel dan Hezbollah, tetapi sebagai wilayah tempat keamanan, kedaulatan, diplomasi, dan kehidupan jutaan manusia saling bertemu.

Referensi

Israel Defense Forces, “IDF Troops Begin Limited Ground Operations Against Hezbollah Targets in Southern Lebanon”, 17 Maret 2026. IDF – Limited Ground Operations in Southern Lebanon

Reuters, “Lebanon and Israel agree to a ceasefire following negotiations in Washington”, 3 Juni 2026. Reuters – Israel Lebanon Ceasefire

Reuters, “Israel, Hezbollah agree to ceasefire in Lebanon”, 19 Juni 2026. Reuters – Israel Hezbollah Ceasefire

Reuters, “Lebanon ceasefire largely holds but fears persist it may collapse”, 22 Juni 2026. Reuters – Lebanon Ceasefire

Associated Press, laporan mengenai situasi Lebanon Selatan dan kunjungan Presiden Joseph Aoun ke Nabatiyeh, September 2026. Associated Press – Southern Lebanon

Israel Defense Forces, “What Happened in the Ali al-Taher Ridge?”, 11 September 2026. IDF – Ali al-Taher Ridge

United Nations Interim Force in Lebanon, “UNIFIL Factsheet”, diperbarui 3 September 2026. UNIFIL – Factsheet

United Nations Interim Force in Lebanon, “Peacekeepers’ effort to help rebuild lives after hostilities in south Lebanon”, 17 September 2026. UNIFIL – Rebuilding Lives in South Lebanon

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *