bikinews – Kabar damainya Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai memberikan efek positif terhadap pasar energi global. Setelah berbulan-bulan dibayangi ketegangan geopolitik dan gangguan distribusi minyak dunia, harga minyak mentah kini menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan. Kondisi ini memunculkan harapan baru bagi masyarakat Indonesia bahwa harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, bisa ikut turun dalam beberapa waktu ke depan.
Sejumlah pengamat energi dan pejabat pemerintah menilai peluang penurunan harga Pertamax memang terbuka. Namun, prosesnya tidak akan terjadi secara instan karena masih ada sejumlah faktor lain yang ikut menentukan harga BBM di dalam negeri.
Harga Minyak Dunia Langsung Merespons
Pasar minyak dunia bereaksi cepat setelah muncul sinyal perdamaian antara Washington dan Teheran.
Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip detikFinance, harga minyak mentah Brent turun hingga sekitar 5 persen ke level US$78,96 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot ke kisaran US$76,05 per barel. Penurunan tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Pergerakan Harga Minyak Dunia
| Jenis Minyak | Sebelum Damai | Setelah Damai |
|---|---|---|
| Brent | Di atas US$80 per barel | US$78,96 per barel |
| WTI | Di atas US$80 per barel | US$76,05 per barel |
Turunnya harga minyak terjadi karena pasar memperkirakan pasokan minyak global akan kembali lancar setelah ketegangan di Timur Tengah mereda dan distribusi melalui Selat Hormuz kembali normal.
Pertamax Bisa Turun, Tapi Tidak Langsung
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyatakan bahwa harga BBM nonsubsidi memang mengikuti harga keekonomian. Karena itu, jika harga minyak dunia terus turun, harga Pertamax secara teori juga dapat mengalami penyesuaian ke bawah.
Menurutnya, mekanisme tersebut berlaku dua arah. Ketika harga minyak naik, BBM nonsubsidi akan menyesuaikan naik. Sebaliknya, ketika harga minyak turun secara konsisten, harga BBM juga berpotensi turun.
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai harga Pertamax dan solar nonsubsidi berpeluang turun apabila harga minyak mentah bertahan di bawah level US$80 per barel.
Kenapa BBM Tidak Langsung Turun?

Ini yang sering bikin masyarakat bertanya-tanya.
Meski harga minyak dunia turun hari ini, harga BBM di Indonesia tidak otomatis berubah keesokan harinya. Ada beberapa komponen yang menjadi dasar perhitungan harga BBM nonsubsidi.
Faktor Penentu Harga Pertamax
| Faktor | Pengaruh |
|---|---|
| Harga minyak dunia | Sangat besar |
| Nilai tukar rupiah | Tinggi |
| Inflasi | Menengah |
| Biaya distribusi | Menengah |
| Pajak dan pungutan | Tinggi |
| Margin badan usaha | Menengah |
Selain harga minyak mentah, pemerintah dan badan usaha juga memperhitungkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi, biaya penyimpanan, hingga komponen perpajakan. Karena itu, penyesuaian harga biasanya menggunakan rata-rata pergerakan dalam periode tertentu, bukan berdasarkan harga harian.
Harga Pertamax Saat Ini
Per Juni 2026, harga Pertamax di sejumlah wilayah Indonesia berada di kisaran Rp16.250 hingga Rp17.000 per liter setelah mengalami kenaikan pada 10 Juni lalu.
Harga Pertamax Beberapa Wilayah
| Wilayah | Harga |
|---|---|
| Jawa, Bali | Rp16.250/liter |
| Sumsel, Lampung, Jambi | Rp16.650/liter |
| Riau, Kepri, Sumbar | Rp17.000/liter |
Dengan harga yang sudah berada di level Rp16 ribuan per liter, banyak masyarakat berharap tren penurunan minyak dunia dapat segera diterjemahkan menjadi harga BBM yang lebih terjangkau.
Pengamat: Penurunan Akan Bertahap
Pakar Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, menilai bahwa perdamaian AS-Iran memang berpotensi menekan harga minyak dunia. Namun ia mengingatkan bahwa harga Pertamax tidak akan langsung kembali ke level lama dalam waktu singkat.
Menurutnya, harga minyak global kemungkinan turun secara bertahap seiring normalisasi distribusi energi dunia. Selain itu, pasar masih harus melihat konsistensi implementasi kesepakatan damai antara kedua negara tersebut.
Harapan Baru bagi Konsumen
Bagi pengguna kendaraan pribadi, kabar meredanya konflik Timur Tengah tentu menjadi sinyal positif. Selama beberapa bulan terakhir, kenaikan harga minyak global menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga BBM nonsubsidi.
Jika tren pelemahan harga minyak terus berlangsung hingga beberapa pekan ke depan dan nilai tukar rupiah tetap stabil, peluang penurunan harga Pertamax akan semakin besar.
Perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran membuka peluang turunnya harga minyak dunia sekaligus memberikan harapan bagi penurunan harga Pertamax di Indonesia. Harga minyak Brent yang telah turun ke bawah US$80 per barel menjadi sinyal kuat bahwa tekanan harga energi global mulai mereda. Namun demikian, harga Pertamax tidak akan langsung turun karena masih dipengaruhi faktor lain seperti kurs rupiah, inflasi, biaya distribusi, dan mekanisme evaluasi harga BBM domestik. Jika tren penurunan minyak dunia berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, peluang penyesuaian harga Pertamax ke level yang lebih rendah semakin terbuka.
Referensi
- DetikFinance – Peluang Harga Pertamax Turun Usai AS-Iran Damai.
- DetikFinance – Harga Minyak Turun Usai AS-Iran Damai, Pertamax Cs Kapan?
- Warta Ekonomi – Harga Pertamax Berpeluang Turun, DEN Sebut Damai AS-Iran Bisa Tekan Harga Minyak Dunia.
- Suara.com – Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Harga Pertamax Turun?
- BeritaSatu – Harga Minyak Dunia Melemah, Kapan Pertamax Benar-benar Ikut Turun?
